green extinct

Study it, Use it and Save it…

Nasib Pohon Saya 10 tahun lagi….. 11 Maret 2012

Filed under: Uncategorized — my blood is green @ 10:18 am
Tags:

Dipterocarpus spp atau yang lebih dikenal dengan keruing adalah salah satu tumbuhan khas dan bisa dikatakan endemik dari Indonesia. Nah, dalam satu semester ke depan anakan pohon keruing ini akan menjadi ‘peliharaan’ saya. Kenapa dibilang menjadi ‘peliharaan’ saya? Karena tumbuhan ini akan saya lihat perkembangannya dalam semester ini. Mulai dari membersihkan area tumbuhnya, mengukur jumlah daun, panjang dan lebar daun serta tinggi pohonnya. Sebagai penanda anakan pohon ini saya beri no tagging B054. Sebenarnya bukan saya sih yang ngasih taggingnya, tapi mumpung masih bagus dipakai aja tagging buatan praktikan yang terlebih dahulu memeliharanya. Anakan keruing ini ditempatkan di Arboretum Andalas, tepatnya di belakang sebelah kanan plang arboretum.

Dalam salah satu situs di internet saya baca, berbagai jenis keruing ini termasuk dalam daftar Extinc in Wild (Punah in situ), Critically Endangered (Kritis) dan Endangered (Terancam Punah). Ketiga status tersebut merupakan status tertinggi berdasarkan tingkat keterancaman sebuah spesies. Wah, jangan sampai dalam 10 tahun mendatang peliharaan saya ini nasibnya masuk ke dalam salah satu, salah dua maupun salah tiga dari daftar diatas. Ngeri juga membayangkan, 10 tahun kedepan, populasi keruing hanya bisa dihitung pakai jari. Semua itu nggak boleh terjadi. Mulai dari sekarang pokoknya harus dibuat perencanaan mengenai masa depan si keruing ini. Agar masa depan yang kelam tidak menghantuinya.

Pertanyaan menggelitik tentang seperti apa masa depan ‘peliharaan’ saya untuk sepuluh tahun yang akan mendatang akan coba saya tuliskan dalam beberapa paragraf berikut. Sekarang keruing saya masih setinggi kira kira satu meter, dengan jumlah daun 20 lembar. Kalau diibaratkan manusia masih seperti balita. Masih butuh pemeliharaan agar bisa tumbuh lebih baik kelak, apalagi dikategorikan tumbuhan langka, tentu diperlukan perhatian yang lebih dibandingkan tumbuhan lain, tanpa mengenyampingkan keberadaan pohon lain. Kalau umur anakan pohon ini sekarang saya perkirakan lebih kurang 3 tahun.

Sepuluh tahun kedepan… bukanlah waktu yang pendek. Banyak lika liku yang akan di alami oleh keruing saya ini untuk bertahan agar dapat tumbuh dengan subur. Setidaknya adanya ancaman mati mendadak karena kekurangan nutrisi, kehilangan perhatian dan faktor lingkungan yang tidak dapat dia elakkan. Dalam karangan ini, saya akan bercerita tentang baby keruing (panggilan kesayangan) saya yang tumbuh dengan baik dan bertambah besar tentunya.

Satu dekade kedepan yang perkirakan baby keruing ini udah lebih tinggi dari ukuran tubuh saya. Kalau sekarang saya masih menoleh ke bawah untuk melihatnya. Nah pada masa ini saya mungkin sudah bisa bertengger alias duduk di salah satu dahannya. Di bawahnya saya udah bisa bernaung dikala sengit matahari dan berteduh dikala hujan. Dulu daunnya cuma 20 lembar, saat itu saya sudah tidak sanggup lagi menghitungnya, malah bisa untuk tempat berteduh. Baby keruing saya tumbuh jauh lebih besar dari si ‘majikannya’.

Baby keruing yang dulu cuma sepinggang sekarang tinggi menjulang. Akarnyapun mulai kokoh, batangnya membesar, dahan dan rantingya semakin banyak. Disela sela rantingnya, nantinya bakal ada kumpulan daun – daun kering yang menumpuk disana. Ya, nantinya di baby keruing saya sudah ada sarang burung. Tentunya saya nggak berharap satu sarang saja, mudah – mudahan aja banyak. Jadi, jika suatu saat saya menjenguk si keruing ini, saya bisa berteduh sembari ditemani nyanyian burung burung yang saling bersahutan. Akan tercipta hubungan ekologis yang bagus antara baby keruing saya dengan para burung – burung. Keruing menyediakan sarang untuk burung, sementara burung menjatuhkan kotorannya ke tanah sehingga bisa dijadikan pupuk alami agar baby keruing saya tumbuh semakin besar dan tinggi. Itu salah satu contohnya. Hubungan simbiosis ini tentunya akan juga berimbas ke lingkungan sekitar arboretum. Nutrisi tanah semakin bertambah, sehingga tumbuhan yang ada disekitarnya juga bisa tumbuh dengan baik.

Sekarang kita lihat bagian bawah baby keruing saya, tepatnya di dalam tanah. Disana sudah tumbuh akar yang kokoh dan banyak yang mampu menyokong area arboretum. Karena posisinya yang nyaris di tepi arah ke jalan raya, struktur akarnya akan mampu menahan erosi tanah. Bisa dijadikan beton alami agar tidak longsor.

Untuk menjaga supaya pohon saya ini tidak ditebang, suatu saat saya pengen membuat pagar di sekelilingnya kira – kira setinggi pinggang. Lalu memberi name tag di pagar tersebut. Sehingga orang tidak akan menebangnya atau menggantinya dengan pohon lain. Kira- kira di name tagnya saya buat “Dipterocarpus spp, mari kita jaga dan kita lestarikan”.

Nanti kalau di depan arboretum, dibangun gedung perkuliahan baru Unand, saya pengen membuat tempat duduk yang ada sanderannya di bawah keruing ini.  Disana mahasiswa yang lagi jeda atau selesai kuliah bisa duduk – duduk nyantai sambil menikmati keindahan dan tentunya di iringi kicauan burung – burung yang bersarang di atasnya. Saya lebih tertarik membuat tempat duduk di bawah pohon dibandingkan membuat rumah pohon diatasnya. Kenapa demikian? Jika di atas pohon dibangun rumah pohon ada beberapa aspek yang hilang atau dirugikan. Pertama, tentunya para burung burung tadi tidak akan membuat sarang lagi diatas pohon karena mungkin saja kehidupannya terusik oleh keberadaaan rumah pohon tersebut. Kedua, saya nggak rela aja kalau nantinya baby keruing saya di paku sama paku yang panjangnya bukan main. Tentunya sedikit banyak akan merusak jaringannya dan mengganggu metabolismenya. Pilihan saya jatuh ke tempat duduk di bawah pohon tentu punya alasan. Saya bisa memanfaatkan sekaligus mengkonservasi pohon ini tanpa sedikitpun mengganggu kehidupan keruing itu sendiri. Tempat duduk ini berbetuk huruf U dan di tengahnya pohon keruing ini.

Agar penampilan keruing saya nantinya menjadi lebih cantik, saya pengen menanam anggrek epifit di sela sela dahan dahannya. Bunga – bunga anggrek yang bermekaran nantinya akan menambah pesona keruing saya di mata para mahasiswa yang kuliah di dekat arboretum maupun yang sering lewat di dekatnya (kan di depannya ada jalan raya tuh). Hal ini tentu menjadi alasan mengapa keruing saya nantinya harus dipertahankan, dijaga tanpa harus ditebang atau di usik keberadaannya. Apalagi yang ditanam disana adalah anggrek epifit yang termasuk langka. Akan lebih menambah nilai konservasinya. Saya tersenyum lebar aja jika ngebayangin kalau nantinya mahasiswa sepuluh tahun kedepan sering berfoto – foto narsis di bawah pohon ini. Rasanya akan menjadi view yang bagus untuk latar foto sekaligus menambah keindahan kampus tercinta.

Selain itu, untuk anggrek epifit kan cuma bisa dilihat di siang hari, nah malam harinya saya pengen ngasih lampu taman di samping keruing saya. Sehingga kecantikan baby keruing saya bisa dinikmati siang dan malam. Lalu dibagian bawah batangnya dililitkan  juga lampu kerlap kerlip yang tentunya juga menambah nilai estetikanya. Saya pede aja bilang kalau nantinya gak ada orang yang tega nebang pohon yang udah dijaga dan ditata dengan baik.

Sepuluh tahun ke depan diperkirakan global warming semakin merajalela, sekarang aja panasnya bukan main. Untuk menjaga agar pohon keruing ini tetap memberikan kesejukan bagi orang yang berteduh di bawahnya, tentunya kerindangan daunnya harus dipertahankan atau kalau bisa ditingkatkan. Salah satu strategi saya nantinya dengan terus memberikan pupuk organik maupun pupuk buatan secara rutin di pangkal batangnya. Sehingga kebutuhan keruing akan nutrisinya tetap terjaga.

Selain hal diatas, kebersihan disekitar tempat tumbuhnya harus selalu dijaga. Daun – daun tua yang berjatuhan bisa dijadikan kompos buat dia sendiri atau bisa disumbangkan untuk tumbuhan lain yang membutuhkan.

Ada baiknya didekat keruing ini saya sediakan tempat sampah. Kebiasaan mahasiswa yang buang sampah sembarangan juga bisa dikurangi sekaligus area disekitar keruing selalu terjaga bersih.

Keberadaan gulma juga harus diperhatikan dan disingkirkan. Gulma secara tidak langsung mengganggu pohon karena nantinya rebutan makanan alias nutrisi dari tanah. Gulma ini tidak harus diberi pestisida, cukup dicabut aja atau di cangkul. Perawatan terhadap gulma juga harus rutin dilakukan.

Biasanya kalau pohon yang sudah cukup besar, hal yang cukup ditakutkan akan mengganggu adalah kehadiran benalu. Benalu yang tumbuh di atas pohon akan mengganggu metabolisme keruing. Lama kelamaan daun daun keruing bisa rontok dan berkurang sehingga lama kelamaan bisa mati. Nantinya jika ada benalu, bisa dibersihkan langsung dengan mengangkatnya tanpa harus menunggu benalunya berkembang lebih banyak.

Satu hal lagi yang saya rasa cukup penting bagi keruing adalah penggemburan tanah di sekitar akarnya. Penggemburan dilakukan rutin misalnya satu kali dalam sebulan. Penggemburan ini bertujuan agar air hujan bisa terserap baik oleh keruing. Jadi nantinya pagar yang telah dibuat bisa dibuka pintunya untuk memudahkan penggemburan tanah.

Dari beberapa uraian diatas,  ada beberapa hal tambahan yang saya konservasi, selain keruing yang terutama, saya bisa mengkonservasi anggrek epifit, beberapa jenis burung, maupun lingkungan abiotik. Terlintas dipikiran saya, daerah mini konservasi saya ini diberi nama “Mini Park of Keruing” atau bisa disingkat MPK. Senang aja nantinya orang – orang bilang, “eh, ke MPK yuk, biar adem” atau “ ke MPK yuk biar nyaman, kan lagi bosen nih”. Jadi mini konservasi ini bisa dijadikan tempat istirahat dan menghilangkan kejenuhan.

Untuk pengetahuan tentang konservasi bagi mahasiswa yang sering mengunjungi MPK alangkah baiknya di dekat tempat duduk tadi tepatnya di bawah lampu taman  saya beri mading. Jadi siapa aja bisa mengisi mading tersebut. Isinya tentang konservasi, baik hewan, tumbuhan ataupun manusia  kalau ada. Jadi banyak hal bermanfaat yang bisa dilakukan di bawah pohon keruing tanpa mengganggu keberadaannya.

Perawatan untuk keruing tentu tidak hanya dilakukan setelah 10 tahun kedepan. Sebelum itu juga sebaiknya telah dilaksanakan. Proses dalam konservasi juga sangat menentukan keberhasilan dalam melestarikan.

Sepuluh tahun kedepan saya berharap sekali ini tidak hanya jadi lelucon saja. Saya sangat berharap ini bisa terwujudkan. Tidak hanya untuk satu pohon tapi semua pohon. Konservasi bukan hanya untuk satu pohon tapi semua kehidupan yang menyangkut semua aspek tentang pohon.

Jadi dengan adanya langkah langkah dalam konservasi, kita akan menciptakan hubungan/ simbiosis antara manusia dan tumbuh- tumbuhan. Kita bisa memanfaatkannya tanpa harus mengusik keberadaannya ataupun menebangnya.

Semoga sepuluh tahun kedepan, tulisan saya ini bisa terwujud. Konservasi saya ini sebaiknya sangat menguntungkan tumbuhan itu sendiri sekaligus bermanfaat bagi orang – orang disekitarnya. Semoga baby keruing saya bisa tumbuh dengan cepat dan subur. Karena keberadaan satu pohon saja sangat bermanfaaat bagi kehidupan kita. Dan yang paling penting baby keruing saya ini tetap ada, minimal dalam sepuluh tahun kedepan. Amin…

.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s